Kamis, 04 Oktober 2012

WS 1- Sunan Drajat - Lamongan

Referensi yang saya baca sebelum perjalanan saya ke Makam Sunan Drajat, Desa Drajat, Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan.

http://jelajah-nesia.blogspot.com/2012/04/wisata-religi-di-makam-sunan-drajat.html

  • Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel dan diperkirakan lahir pada tahun 1470 masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, yang mendapat gelar Raden Syarifudin.
  • Dalam hidupnya, Sunan Drajat dikenal dengan filosofi dan jiwa kepedulian sosialnya pada warga yang tidak mampu. Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan itu terabadikan dalam sap Tangga ke tujuh dari tataran kompleks Makam Sunan Drajat dan Relief kayu yang di cungkup Makam.
  • Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali yang membuat tembang ( lagu Jawa ) Mocopat yakni Pangkur yang dimainkan dengan seperangkat Gamelan yang disebut Singo Mengkok. Seperangkat gamelan Kuno Sunan Drajat itu kini tersimpan di Museum Sunan Drajat yang berada di kompleks makam Sunan Drajat.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Drajat

Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Ia terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.
Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi.
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.
[sunting]
Filosofi Sunan Drajat
Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :
  1. Memangun resep tyasing Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)
  2. Jroning suka kudu éling lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
  3. Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
  4. Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
  5. Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
  6. Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
  7. Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)

Rabu, 03 Oktober 2012

Donor Darah + Lomba Mewarnai PAUD & TK

Minggu, 23 September 2012

kali kedua kegiatan Donor Darah yang saya adakan, sesuai dengan jadwal Donor Darah sebelumnya + 3 bulan, seharusnya dilaksanakan pada Juli 2012 tepatnya sebelum bulan Ramadhan. dari pihak PMI Rembang menyarankan saya untuk mengadakan Donor Darah yang kedua sebelum bulan Ramadhan karena Stock Darah di bulan tersebut biasanya menipis. tapi karena waktu itu saya lumayan sibuk dengan pekerjaan dan perjalanan saya keluar kota, dan dengan kondisi waktu persiapan yang terlalu sempit, 3 hari sebelum bulan puasa, saya tidak siap. sebenarnya saya juga sangat berat, karena memang beberapa kali teman PMI saya mengatakan bahwa sangat susah menjaga Stock Darah di PMI tetap Ok di Bulan Ramadhan. saya sempat membayangkan Pasien yang benar2 membutuhkan darah saat itu juga dan tidak dapat terpenuhi. mungkin kalau saya melebihkan usaha saya, saya bisa mendapatkan pendonor. tapi...ya sudahlah.

akhirnya 23 September 2012, Kegiatan Donor Darah yang kedua bisa terlaksana di Desa yang sama. walaupun memang hasilnya menurun. kami cuma bisa mendapatkan 10 kantong darah. padahal sebelumnya sampai 15 kantong darah. jumlah calon pendonor yang saya undang bertambah, tapi karena beberapa orang berasa di luar kota, sedang bekerja, atau kondisi badan tidak memenuhi syarat untuk donor, hasilnya 10 kantong darah terkumpul. alhamdulillah


Donor Darah + Pengobatan Gratis Lansia

Minggu, 29 April 2012

Kali pertama Kegiatan Donor Darah yang saya adakan pada tanggal 29 April 2012 dibarengi dengan Pengobatan Gratis untuk Lansia di Desa tempat saya dibesarkan. Alhamdulillah, Kegiatan yang saya lakukan dan bekerja sama dengan PMI Rembang waktu itu bisa mengumpulkan 15 Kantong Darah. Kegiatan sosial Swadaya hasil patungan saya dan teman saya dan bantuan sukarela dari salah satu teman Dokter saya serta bantuan dari Remaja Karang Taruna berjalan dengan baik. walaupun memang tidak meriah, karena memang bukan kegiatan hiburan. sekitar 30 orang lansia datang untuk memeriksakan kesehatan dan mendapatkan obat gratis.

karena sebelumnya saya tidak menulis tentang Kegiatan Donor Darah yang pertama sekaligus Pengobatan Gratis untuk Lansia yang dilaksanakan tanggal 29 April 2012, disini sedikit saya laporkan....(bergaya sok reporter)

kenapa Donor Darah?

sebelumnya sejak tahun 2010, saya rutin donor darah. tapi setelah tahu bahwa darah saya tidak layak di donorkan, saya jadi agak sedih. dari sini dan memang karena saya ingin ikut kegiatan sosial, jadi akhirnya saya memutuskan untuk mencari Pendonor. kalaupun saya tidak bisa mendonorkan darah saya, saya sangat berharap bisa mengajak orang lain donor darah. akhirnya setelah curhat ke beberapa kawan saya, akhirnya muncul ide mengadakan kegiatan Donor Darah dan Pengobatan Gratis untuk Lansia. karena keterbatasan Dana dan Tenaga, Pengobatan Gratis hanya untuk Lansia, bukan umum. saya berharap suatu saat nanti bisa mengadakan pengobatan gratis untuk umum.

atas bantuan tenaga dan buiaya dari kawan saya seorang Dokter dan Perawat, dan hasil kerjasama dengan Pemuda Karang Taruna setempat, kegiatan ini bisa terlaksana. 


Selasa, 02 Oktober 2012

mimpi : WALI SONGO

anehkah judulnya?

apa yang saya tulis di blog ini biasanya adalah hasil perjalanan saya yang telah saya lakukan. tapi kali ini, judul entri baru saya adalah "mimpi : WALI SONGO".. kata mimpi di depan menunjukkan bahwa apa yang saya tulis ini masih berupa mimpi/ Rencana Perjalanan saya selanjutnya.

sudah banyak saya dengar dan lihat beberapa rombongan dari kampung-kampung di sekitar tempat saya tinggal melakukan perjalanan wisata religi Ziarah Wali Songo, tapi belum sekalipun saya ikut perjalanan seperti ini.

berhubung hobby say travelling khususnya naik motor, bukan angkutan umum atau rombongan, saya langsung punya ide untuk melakukan perjalanan wisata semacam itu dengan naik motor. perjalanan ini mungkin tidak bisa saya lakukan sekaligus dalam satu waktu, mengingat makam dan peninggalan Wali Songo yang tersebar di 8 kota Kabupaten di Pulau Jawa yang terpisah di 3 Provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. bisa saja perjalanan ini akan tuntas, lengkap sembilan wali, selama setahun. wkwkwkk..saya tidak membuat target waktu, tapi saya niat. wkwkwkwkk

masalah waktu, tenaga dan biaya menjadi pertimbangan utama. dalam waktu dekat mungkin saya dapat menjangkau Makam dan peninggalan Wali di Provinsi Jawa Tengah (Demak, Kudus, dan Jepara) dan beberapa di Provinsi Jawa Timur (Tuban dan Lamongan). saya harus memilih waktu yang tepat karena saya punya jadwal bekerja, dan mencari teman perjalanan.

selama saya merencanakan tempat tujuan pertama yang akan saya kunjungi, saya akan mempelajari tentang kesembilan wali ini dan kota yang akan saya tuju. selain mengunjungi makan dan peninggalan wali tersebut, saya berniat mampir di beberapa wisata alam di kota yang saya kunjungi. sekilas tentang wali songo saya dapat dari http://tempatwisata.web.id/daftar-tempat-wisata-agama-islam-makam-wali-songo.html

Makam anggota Wali Songo berada di Pulau Jawa dan tersebar di tiga provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sebuah perjalanan tour wisata agama dengan tujuan ziarah makam Wali Songo biasanya dilakukan secara berurutan selama 7 hari mulai dari Jawa Timur sampai Jawa Barat, maupun arah sebaliknya. Melalui artikel berikut ini saya merangkum kunjungan menuju 9 makam anggota Wali Sembilan yang pernah saya lakukan.

1. Surabaya: Makam Sunan Ampel

Makam Sunan Ampel berada di Kota Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Nyamplungan. Salah satu tempat wisata di Surabaya ini ramai dikunjungi warga muslim karena lokasinya yang berada di tengah kota dan didukung jalur transportasi yang lancar. Makam Sunan Ampel berada dalam kawasan wisata budaya Surabaya, berdekatan dengan area pecinan Kya Kya Kembang Jepun dan Kampung Arab.

2. Gresik: Makam Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim

Kota Gresik memiliki keistimewaan memiliki dua makam anggota Wali Songo, yaitu Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Makam Sunan Giri berada di puncak sebuah bukit di daerah Kebomas, sedangkan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim berada tak jauh dari alun-alun Kota Gresik, Jawa Timur. Keduanya menjadi daya tarik wisata di Kota Gresik sehingga wisata kuliner Gresik ikut dikenal masyarakat luas.

3. Lamongan: Makam Sunan Drajat

Sunan Drajat menyiarkan agama Islam di sekitar wilayah Lamongan. Setelah beliau meninggal, Sunan Drajat dimakamkan di daerah Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Tempat wisata di Lamongan tersebut berada pada bukit dengan dikelilingi pepohonan yang luas. Untuk pengenalan sejarah budaya bagi dunia pendidikan, di sekitar makam Sunan Drajat dibangun Museum Sunan Drajat dan bisa diakses masyarakat umum secara gratis.

4. Tuban: Makam Sunan Bonang

Sebenarnya terdapat beberapa versi cerita mengenai sejarah makam Sunan Bonang. Ada yang mengatakan Sunan Bonang dimakamkan di 3 lokasi, yaitu Rembang, Tuban, dan Pulau Bawean. Namun sebagian besar ulama dan ahli sejarah setuju bahwa makam asli Sunan Bonang berada di kota Tuban, Jawa Timur. Makam tersebut berada di sebelah barat Masjid Agung Tuban, tepat di salah satu sisi alun-alun Kota Tuban.

5. Kudus: Makam Sunan Kudus

Sesuai namanya, makam Sunan Kudus berada di Kota Kudus, Jawa Tengah. Lokasi makam tak jauh dari Masjid Kudus yang memiliki menara mirip bangunan candi Hindu. Makam Sunan Kudus berada pada daerah dataran rendah sehingga lokasinya mudah dijangkau para wisatawan yang ingin mendoakan. Salah satu tempat wisata di Jawa Tengah ini ramai dikunjungi wisatawan melalui paket wisata Wali Songo.

6. Jepara: Makam Sunan Muria

Makam Sunan Muria berada tepat di puncak Gunung Muria. Saya sendiri ragu menentukan apakah lokasi makam berada di Jepara atau masih masuk wilayah Kudus. Namun sebagian besar literatur menyatakan bahwa makam tersebut berada di kawasan Jepara. Sebelum mencapai obyek wisata di Jawa Tengah ini, wisatawan harus menguji mental dan fisik untuk melewati jalur mendaki dan terjal menuju lokasi makam. Untungnya sudah ada layanan ojek yang mendukung kegiatan liburan ini.

7. Demak: Makam Sunan Kalijaga

Kota Demak bukan hanya terkenal dalam bidang sejarah budaya karena pernah berdiri Kerajaan Islam Demak. Disana juga terdapat makam Sunan Kalijaga (dalam bahasa setempat disebut Sunan Kalijogo). Lokasi makam agak ke daerah pinggiran kota Demak. Jarak makam Sunan Kalijaga dan kompleks pemakaman keluarga Kerajaan Demak bisa ditempuh dengan naik mobil selama kurang lebih 15 menit. Inilah salah satu obyek wisata di Jawa Tengah yang memiliki nuansa Jawa yang sangat kental.

8. Cirebon: Makam Sunan Gunung Jati

Bagian paling barat dari makam-makam anggota Wali Songo adalah makam Sunan Gunung Jati. Lokasi makam berada di salah satu daerah di kota Cirebon, Jawa Barat. Makam Sunan Gunung Jati berhiaskan ornamen dan piring antik dari China. Menurut sejarah yang beredar di masyarakat, Sunan Gunung Jati semasa hidupnya pernah menikahi Putri Ong Tien dari China sehingga budaya Tiongkok tampak dalam peninggalan sejarah di Cirebon.

Itulah delapan kota yang menjadi lokasi pemakaman para tokoh Wali Songo. Berlibur dan mengunjungi tempat-tempat wisata menarik di Indonesia bukan hanya untuk tujuan bersenang-senang. Kegiatan travelling juga bisa menjadi media pendidikan yang bagus untuk mengenalkan kekayaan budaya bangsa sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri kita. Ayo berlibur keliling Indonesia!


dari salah satu blog yang saya baca, bicara soal lokasi Makam Sunan Bonang yang masih simpang siur antara di Desa Bonang Rembang - Jawa Tengah atau di Tuban - Jawa Timur. http://informasi-budidaya.blogspot.com/2011/11/wisata-religi-perlu-data-empiris.html mengatakan bahwa "Pemkab Rembang telah lama ingin mengembangkan prosesi penjamasan bende bicak menjadi wisata religi komperhensif dengan aneka kegiatan, termasuk didalamnya ziarah ke makam Sunan Bonang. Namun karena sampai saat ini keberadaan makam yang sebenarnya masih simpang siur apakah di Bonang-Rembang atau di Tuban-Jawa Timur, maka perlu dicari bukti empiris terkait tempat terakhir peristirahatan salah satu tokoh wali songo tersebut.". saya sama sekali tidak berniat ikut-ikutan mencari bukti atau apapun tentang kebenaran lokasi Makam Sunan Bonang...wkwkwkk..hanya saja, karena Desa Bonang masih berada di wilayah Kota Rembang dimana saya juga tinggal, saya jadi tertarik untuk mengunjungi peninggalan/ Makam tersebut. semata-mata karena jaraknya yang dekat dan untuk menambah informasi. saya juga sering melihat rombongan peziarah di sekitar Wisata Bonang setiap kali saya lewat daerah ini. sering penasaran, tapi saya belum menyempatkan diri mampir ke tempat ini.

beberapa tulisan dari blog-blog lain sengaja saya tampilkan disini sebagai referensi tambahan. saya sebutkan web nya sebagai bentuk sopan santun dan menjauhkan dari usaha plagiat. satu informasi lagi saya ambil dari http://www.seasite.niu.edu/indonesian/islam/Bonang.htm yang memberikan informasi tentangh Sunan Bonang.

di blog tersebut ditulis seperti dibawah ini :

Sunan Bonang


Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

ada informasi yang menurut saya sedikit unik dari sebuah postingan di kaskus saat saya mencari info tentang makam Putri Sempa yang ada di Pasujudan Sunan Bonang di Desa Bonang, Rembang.

http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=544152467&postcount=375, tertulis sebagai berikut :

" Di atas bukit ketinggian 500 meter itu sejarah Islam Jawa kembali terkuak. Puncak bukit di kawasan Binangun ini adalah bekas petilasan, atau pasujudan Bong Tak Ang salah seorang anggota Walisongo yang meninggal tahun 1525 Masehi pada umur 60 tahun. Sebagian orang menganggap ini adalah kuburannya, tetapi data yang paling valid ini hanyalah sebuah petilasan, tempat persemediannya. Kuburan Bong Tak Ang sendiri berada di tengah Kota Tuban Jawa Timur. Di puncak bukit itu juga terdapat makam Putri Campa Ibunya. Pada situs itu tertulis tarikh Jawa 1370 (1448 Masehi). Putri Campa ini bernama Andarawati, istri dari Bong Swie Ho seorang Wali Songo senior di Surabaya. Kabarnya makam Putri Campa tidak berada di bukit itu, tetapi di Dukuh Unguh-Unguhan, Trowulan Jawa Timur. Bong Tak Ang memindahkan makam Ibunya itu karena (menurut sejarahwan Graaf dan Pideaud) saat itu terjadi perampasan barang-barang berharga milik kerajaan Demak yang sedang diserang Mataram. "

saya katakan menarik, dari referensi sebelumnya nama sunan bonang, ayah (Sunan Ampel) dan kakeknya Syeh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) mempunyai nama seperti keturunan dari Arab, sedangkan referensi yang terakhir ini nama-nama yang muncul seperti orang-orang keturunan Tionghoa. Tetapi jelas yang dibahas disini sebagai Bong Tak Ang adalah anggota Wali Songo yang ayahnya seorang Wali Songo Senior di Surabaya (Sunan Ampel). sedangkan ibunya yang disebut Putri Campa, di referensi sebelumnya adalah istri Sunan Ampel yang bernama Nyi Ageng Manila. saya agak bingung, tapi saya menikmati keunikan ini..wkkwkwkwkk


Minggu, 30 September 2012

TUBAN (Pantai Sowan, Kwan Sing Bio & Goa Akbar)

16 September 2012

bersama tiga orang temanku, maya,tutik dan angel.
Tuban merupakan Kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan kota Rembang (Jawa Tengah). Kota Kabupaten tetangga, tapi selama ini ga kepikiran buat main kesono. dan akhirnya setelah melihat tayangan tentang GOA AKBAR di salah satu stasiun TV, langsung menginspirasi. Selain jaraknya yang relatif dekat dengan Rembang sehingga bisa sekali jalan dan ga perlu repot-repot cari tumpangan menginap, ternyata Tuban merupakan kota yang layak dikunjungi karena wisata alam dan budaya nya yang menarik. Sebut saja Goa Akbar, Kelenteng, Makam Sunan Bonang dan lain-lain.

Perjalanan ke Tuban dari Rembang, sepanjang jalan kita banyak dimanjakan dengan pemandangan Laut Jawa, karena sebagian besar Jalan Raya Rembang-Tuban berada tepat dipinggir pantai Laut Jawa. tapi hati-hati, jangan terlena dengan pemandangan alamnya, karena beberapa jalan bergelombang banyak kita temui setelah masuk wilayah Provinsi Jawa Timur, tepatnya sekitar 5 - 10 km dari Gerbang perbatasan Jateng-Jatim.





Di Gerbang Perbatasan Jateng-Jatim, tepat disebelah timur Kecamatan Sarang (Rembang), aku dan teman-teman sempat berhenti untuk istirahat Sarapan sambil menikmati Matahari Pagi dan Angin Laut. dan yang pasti, Hunting Foto....


setelah cukup mengisi energi dan lumayan capek nunggu orang2 narsis pada foto, karena masih cukup pagi, perjalanan dilanjutkan. tidak langsung ke Tuban, kali ini rombonganku memutuskan untuk mampir ke Pantai Sowan.

PANTAI SOWAN


kami berempat sampai di Tempat Wisata Alam ini sekitar jam 08.00 dan terlihat sepi waktu kami sampai di Gerbang Masuk Wisata Pantai Sowan ini. bahkan tidak ada penjaga di Loket Karcis. Palang Gerbang Masuk masih terpasang dan terpaksa dengan sedikit usaha membungkuk untuk melewatkan badan sekaligus motor.

Dari Gerbang masuk sampai tepat di pinggir pantai Sowan, kami harus melewati semacam hutan kecil dengan satu jenis pohon. sempat kami melewati bangunan milik Perhutani yang terlihat sepi juga. akses jalan menuju Pantai Sowan di hutan ini hanya berupa jalan setapak dan masih berupa tanah dan batuan. karena masih musim kemarau, jadi kami ga perlu direpotkan dengan tanah becek dan licin.

sekitar 700 meter dari pintu masuk, tanda-tanda, aroma dan suara air laut sudah mulai terasa. dan benar saja, pantai Sowan ada di depan mata.





yang membuat saya suka pantai ini adalah
  1. masih sangat alami, saya ga perlu stres liat terlalu banyak orang berlalu lalang di tempat ini. saya juga ga perlu memalingkan muka saya dari memandang indahnya alam ke tempat makan atau kios-kios penjual souvenir, dll
  2. banyak pohon. salah satu alasanku kadang males main ke pantai adalah identik dengan tempat terbuka tanpa pemandangan hijau. tapi disini, bahkan saat kita baru masuk dan bahkan saat puncak musim kemarau kita masih bisa menikmati banyak pohon. walaupun memang bisa dibilang tidak berdaun, tetapi karena rapatnya pohon-pohon disini dan panjangnya ranting-ranting, menciptakan eksotisme alam tersendiri.
  3. pantai berbatu. karakteristik kebanyakan pantai di Laut Utara adalah landai dan berpasir. dan aku suka tempat ini karena pantainya berbatu dan menjorok kebawah dari daratan. sayang, aku ga sempet turun ke laut... karena harus melanjutkan perjalanan, jadi ga sempet ngrasain air laut Pantai Sowan, asin atau manis? ..wkwkwkwkk
  4. bersih. aku ga banyak liat sampah plastik dan kertas berserakan di tempat ini. apakah selalu dibersihkan? atau sedikit pengunjung? ...mmm...apapun itu, BERSIH. aku suka


sampai akhirnya kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Pantai Sowan, pada saat melewati Pintu Gerbang Masuk yang sekaligus sebagai pintu keluar, tidak juga kami temukan petugas ataupun pengelola Pantai ini. dan ini berarti kami tidak perlu membayar tiket masuk dan parkir motor. tapi sebelum saya kabur sambil kegirangan karena dapet gratisan, saya sempat memotret harga Tiket Masuk ke tempat wisata ini sebagai oleh-oleh buat kawan-kawan yang ingin berkunjung ke tempat ini.



Tiket Masuk 3.000/orang
motor 1.000 dan mobil 2.000
murah meriah yaaaa
silahkan datang
SALAM CINTA INDONESIA

lanjutkan perjalanan ke >>>>> Klenteng Kwan Sing Bio











KLENTENG KWAN SING BIO


Jalan Masuk dari Samping

Lokasi Klenteng ini sangat mudah dicapai. cukup mengikuti Jalan Pantura masuk ke Kota Tuban, dan anda pasti melewati Klenteng ini, terletak di selatan jalan yang berseberangan langsung dengan Laut Jawa (Menghadap Laut Jawa). dan ternyata seperti apa yang saya baca dari http://travel.detik.com/read/2012/02/25/000634/1851222/1025/klenteng-kwan-sing-bio-sang-penantang-laut-utara , Klenteng Kwan Sing Bio ini merupakan satu-satunya klenteng di Indonesia yang menghadap ke laut. Keberadaannya yang berani menantang laut ini, mengartikan bahwa kelenteng ini kuat. Bahkan, banyak yang mengatakan tempat ibadah ini keramat maka jangan heran bila bengunan ini banyak menarik perhatian orang khususnya yang beragama Tionghoa.

Lokasi yang cukup luas dan warna yang mencolok dan patung Kepiting besar di atas Gerbang masuk klenteng ini menambah kemudahan menemukan lokasi Klenteng ini. Setelah melewati Pos Satpam untuk meminta ijin berkunjung dan sedikit urusan Administrasi, anda akan bebas menikmati wisata Budaya dan Agama di Klenteng ini, tentunya dengan tidak mengganggu Masyarakat Tionghoa yang sedang sembahyang disini.


Bangunan Utama
saya dan teman-teman masuk melalui jalan masuk di bangunan samping kiri (karena kami harus mencari toilet untuk memenuhi hajat, wkwkwk). dari bangunan ini kita akan dimanjakan dengan gambar-gambar timbul di dinding berukuran besar berupa Peta Indonesia, Peta RRC, Tembok Besar Cina dan Candi Borobudur. perpaduan antara Budaya Indonesia dan China. Ukuran gambar timbul dan besar yang hampir memenuhi dinding, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk berfoto. kami dan teman-teman selain berfoto, juga sempat meneliti beberapa tempat dan pulau-pulau di Indonesia dari peta raksasa ini. wkwkwkk

Dinding bergambar Peta Indonesia
Bandingkan dengan ukuran penampakan ini..wkwkwk



sebenarnya berkunjung ke klenteng ini bukan tujuan utama perjalanan kami ke Tuban. ide ini mendadak muncul saat saya dan teman-teman ngobrol sambil istirahat di perbatasan Jateng-Jatim. Dan ternyata tidak rugi kami menyempatkan waktu singgah di tempat ini. tentu saja karena tidak direncanakan sebelumnya, saya ga sempat membaca referensi tentang klenteng ini. baru setelah saya mulai menulis hasil perjalanan saya, saya googling dan mendapat informasi ini dari http://wisatakuliner.com/kuliner/tempat-wisata/item/klenteng-tuban-kwan-sing-bio.html

Konon, klenteng ini merupakan sebuah tempat pemujaan kecil milik sebuah keluarga berkewarganegaraan Cina yang merantau ke Indonesia. Keluarga tersebut pernah tinggal di Desa Tambakboyo, sekitar ±30 km arah kota Tuban. Diperkirakan, sekitar 200 tahun yang lalu tempat pemujaan itu akan dipindahkan ke daerah timur. Tapi sesampainya di Tuban, kapal yang membawa Kongco Kwan Sing Tee Koen dan bahan-bahan dari pembongkaran rumah pemujaan mendadak berhenti. Segala upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahannya, tapi tidak ada hasil yang didapatkan. Pada akhirnya, seluruh awak kapal mengambil keputusan untuk melakukan ritual pue yang bertujuan untuk meminta petunjuk dari Dewa. Setelah melakukan ritual tersebut, akhirnya Kongco Kwan Sing Tee Koen beserta bahan-bahan dari pembongkaran diturunkan untuk membangun klenteng di wilayah tersebut dengan nama “Klenteng Kwan Sing Bio”.

Sebenarnya Klenteng Kwan Sing Bio memilki beberapa arsip yang berisi tentang sejarah berdirinya Klenteng Kwan Sing Bio, akan tetapi arsip tersebut terbakar pada saat zaman penjajahan. Hingga saat ini, sejarahnya sendiri merupakan cerita yang diceritakan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, untuk mengetahui tahun berdirinya Klenteng Kwan Sing Bio secara pasti cukup sulit. Pada masa Orde Baru, klenteng ini merupakan sebuah rumah ibadah yang diperuntukkan bagi tiga umat agama. Oleh karena itu, klenteng ini sering dikenal dengan nama TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma), yaitu umat Budha, Taoisme dan Konghucu.

saat istirahat setelah berkeliling di area klenteng ini, saya sempat duduk bersama salah satu penjaga Klenteng. dari Bapak ini saya mendapat informasi tentang umat yang sembahyang di tempat ini yaitu Budha, Taoisme dan Konghucu. selebihnya saya cuma dinasehati untuk tidak memotret masyarakat yang sedang sembahyang (setelah memergoki saya memotret dua orang yang lagi sembahyang...wkwkwk...maaf)



Tidak banyak informasi yang saya dapat dari Petugas-petugas maupun umat tentang Klenteng ini. karena memang waktu yang terbatas dan saya tidak mau mengganggu mereka yang sedang sembahyang dengan pertanyaan-pertanyaan. saya hanya bisa memperhatikan mereka sembahyang sambil beberapa kali mengambil gambar patung-patung yang mungkin dewa mereka.


Banyak Relief dan patung-patung berukuran besar bisa dijumpai disini. Aroma asap dupa semakin menusuk di dekat bangunan utama tempat sembahyang. beberapa lilin berukuran besar menyala, dan kertas-kertas berwarna kuning sebagai simbol uang dibakar.





GOA AKBAR

Akhirnya sampai di tempat tujuan utama trip kali ini. Goa Akbar